BAURAN PEMASARAN LOKASI DAN DISTRIBUSI
BAURAN
PEMASARAN
LOKASI
DAN DISTRIBUSI
A.
Konsep
Lokasi dalam Bauran Pemasaran
Lokasi
merupakan bagian yang penting dalam suatu proses pemasaran, baik itu produk
maupun jasa. Lokasi dalam proses pemasaran digunakan untuk penjualan maupun
pergudangan dalam system penjualan online. Pemilihan lokasi dalam pemasaran
akan berpengaruh pada biaya oprasional serta jangkauan konsumen. Dikatakan dalam
bukunya Buchari Alma (2003:103) ”Lokasi
adalah tempat perusahaan beroperasi atau tempat perusahaan melakukan kegiatan
untuk menghasilkan barang dan jasa yang mementingkan segi ekonominya”. Ujang Suwarman
mengatakan (2004:280),” lokasi merupakan tempat usaha yang sangat mempengaruhi
keinginan seseorang konsumen untuk datang dan berbelanja”.
Terdapat
bebrapa jenis interaksi yang mempengaruhi lokasi biasanya dilakukan dalam
pemasaran. Pertama konsumen mendatangi
pemberi jasa. kedua pemberi jasa mendatangi konsumen. Ketiga pemberi jasa dan konsumen tidak bertemu secara
langsung.
B.
Kriteria
Daerah untuk Pemasaran
Pemilihan
lokasi yang tepat akan mendukung dalam proses pemasaran. Beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam pemilihan lokasi antara lain:
1.
Letak
lokasi dengan pasar meliputi: pelayanan konsumen, distribusi, lokasi ini juga
harus mudah dijangkau oleh konsumen dengan adanya transportasi umum. Pemilihan tempat
juga harus nyaman, serta memungkinkan untuk perluasan usaha.
2.
Fasilitas
pengangkutan: prasarana, jalan, dan fasilitas serta kondisi lalu lintas yang lancer
karena dengan adanya kemacetan maka akan menimbulkan hambatan pada proses
distribusi.
3.
Masyarakat:
sikap, tingkat keamanan.
C.
Persyaratan
K3 dalam pemasaran.
K3 atau
Keselamat, kesehatan kerja merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses
pemasaran, khususnya dari segi lokasi. Pemilihan lokasi yang tepat akan
meminimalisir dampak negative yang ditimbulkan, misalnya kecelakaan kerja,
pencemaran serta kebisingan. Penerapan K3 telah diatur dalam Undang-Undang No.1
tahun 1970 yang berisi peraturan K3 dalam melakukan perlindungan terhadap asset
perusahaan baik sumberdaya manusia dan factor produksi lainnya. K3 sedah
terintegrasi didalam semua fungsi perusahaan baik fungsi perencanaan, produksi
dan pemasaran serta fungsi-fungsi lainnya yang ada dalam perusahaan. Syarat
yang harus dipenuhi ketika mendirikan suatu usaha pemasaran adalah:
•
Mencegah
dan mengurangi kecelakaaan kerja
•
Mencegah,
mengurangi dan memedamkan kebakaran
•
Mencegah
dan mengurangi bahaya peledakan
•
Memberi
jalur evakuasi keadaan darurat
•
Memberi
P3K kecelakaan kerja
•
Memberi
APD pada tenaga kerja
•
Penerangan
yang cukup dan sesuai
•
Suhu
dan kelembapan udara yang baik
•
Menyediakan
ventilasi yang cukup
•
Memelihara
kebersihan, kesehatan dan ketertiban
•
Mengankan
dan memperlancar penganggkutan barang dan jasa
•
Mengamankan
dan memelihara segala jenis bangunan
•
Mengamankan
dan memperlancar bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan baranng
•
Mencegah
dan mengendalikan timbulnyaa penyebaran suhu, kelembapan, debu, kotoran, asap,
uap, gas, radiasi, kebisingan dan getaran
•
Mencegah
dan mengendalikan penyakit akibat kerja dan keracunan
•
keserasian
tenaga kerja, peralatan, lingkungan, cara dan proses kerja
•
Mencegah
terkena aliran listrik
•
Menyesuaikn
dan menyempurnakan keselamatan pekerjaan yang resikonya
D.
Konsep
dan Kegunaan Saluran Distribusi
Pemilihan saluran distribusi yang
tepat sangat dibutuhkan dalam proses pengiriman suatu barang. Pemilihan saluran
ini bisa dilakukan dengan cara survey terlebih dahuku kondisi lokasi pemasaran
serta distribusi produknya. Adapun beberapa pertimbangan yang harus
diperhatikan ketika melakukan penentuan saluran distribusi diantaranya sifat
pembeli, sifat produk, sifat perantara, sifat pesaing dan lain sebagainya. Kegunaan
saluran distribusi dalam pemasaran telah ditulis Philip Kotler dalam bukunya
yang berjudul Manajemen Pemasaran, Edisi Mellenium (2002: 559).
• Mengumpulkan informasi mengenai
pelanggan, pesaing, serta pelaku dan kekuatan lain yang ada saat ini maupun
potensial dalam lingkungan pemasaran
• Mengembangkan dan menyebarkan
komunikasi persuasive untuk merangsang pembelian
• Mencapai persetujuan akhir mrngenai
harga dan syarat lain
• Memperoleh dana yang lebih besar
• Menanggung resiko yang berhubungan
dengan pelaksanan fungsi saluran pemasaran tersebut
• Mengatasi transfer kepemilikan actual
dari suatu organisasi
E.
Tipe-Tipe
Distribusi
Distribusi merupakan kegiatan
penyaluran barang atau jasa yang dilakukan oleh produsen ke konsumen. Dalam distribusi
memiliki berbagai macam tipe, seperti yang dikemukakan Philip Kotler dalam
bukunya manajemen pemasaran bahwa bentuk saluran distribusi yang dilihat dari
banyaknya tahap perantara akan menentukan ukuran panjangnya saluran pemasaran,
diantaranya adalah:
a.
Saluran
level nol (saluran pemasaran langsung) terdiri dari perusahaan yang menjual
langsung kepada konsumen akhir. Contoh warung makan
b.
Saluran
satu level berisi produsen, perantara, konsumen akhir. Contoh: petani bunga –
Kios Bunga - konsumen
c.
Saluran
saluran dua level berisi dua peantara, konsumen akhir. Contoh: perusahaan- agen
Koran- loper Koran- konsumen.
d.
Saluran
tiga level berisi tiga peantara seperti produsen, pengepul, pedangan besar,
pedagang pengecer dan konsumen akhir.
F.
Evaluasi
serta Pengendalian Saluran Distribusi
Evaluasi
merupakan kegiatan menilai terkait dengan saluran distribusi yang telah
dilakuakan sebelumnya. Terdapat beberapa faktor yang menjadi kriteria dalam
mengevaluasi serta mengendalikan saluran distribusi yakni:
a.
Biaya
distribusi
b.
Cakupan
pasar memperkirakan perubahan penjualan jika penetrasi baru benar–benar dilakukan.
c.
Layanan
pelanggan
d.
Komunikasi
dengan pasar dan pengendalian jaringan saluran.
Adapun
upaya yang dilakukan ketika terjadi permasalahan dalam saluran pemasaran antara
lain:
1.
Vertikal
Marketing Sytem (VMS),
adalah
jaringan yang dikelola secara terpusat dan profesional yang sejak awal didesain
untuk mencapai penghematan dalam operasi dan hasil pemasaran yang maksimal.
Terdapat
3 jenis VMS, yaitu:
a.
Corporate
VMS,
yaitu
jaringan yang terbentuk jika para anggota saluran di tingkat distribusi yang
berbeda dimiliki dan dioperasikan oleh satu perusahaan. Misalnya pembangunan.
b.
Administrated
VMS
Administrated VMS adalah suatu jaringan yang kegiatan–kegiatan pemasarannya terkoordinasi
dalam suatu program yang disusun
oleh satu atau beberapa perusahaan dimana perusahaan
yang bersangkutan tidak
berstatus sebagai pemilik keseluruhan jaringan.
Contoh: Kodak, Gillete,
General electric dan P&G.
c.
Contractual
VMS
Contractual VMS adalah
jaringan yang terdiri dari anggota–anggota
saluran independent yang mengintegrasikan program– program pemasarannya dalam perjanjian
(kontrak)untuk mencapai
penghematan dan hasil pemasaran yang lebih baik.
2.
Horisontal
Marketing System
merupakan
jaringan yang terbentuk bila beberapa perusahaan perantara yang tidak berkaitan
menggabungkan sumberdaya dan program pemasarannya untuk memanfatkan peluang
pasar yang ada, yang dalam hal ini mereka berada di bawah satu manajemen. Hal
ini bisa berupa modal, sumber daya dan lain sebagainya.
G.
Manajemen
Konflik dalam Saluran Distribusi.
Konflik
bisa terjadi dalam saluran distribusi, maka perlu penanganan khusus dalam hal
ini, Konflik sendiri dikelompokkan 2macam, yaitu: konflik horizontal dan
konflik vertical.
a.
Bentuk
konflik horizontal: konflik antara perantara yang menjual barang sejenis maupun
beda. Missal took computer berselisih dengan took computer lainnya atau took
elektro.
b.
Konflik
vertikal adalah yang terjadi antara anggota saluran distribusi, missal konflik
antara produsen dan pedagang grosir namun produsen langsung menjual kepada
pengecer.
Konflik
terjadi biasanya karena:
1.
Ketidakselarasan
tujuan
2.
Peran
dan hak yang tidak jelas
3.
Perbedaan
persepsi
4.
Ketergantungan
parantara pada produsen
Untuk mengelola dan menangani konflik dalam saluran
pemasaran
dapat diterapkan beberapa cara sebagai
berikut:
1.
Bargaining,
yaitu salah satu
anggota saluran berinisiatif sendiri dalam proses tawar menawar, dimana ia
bersedia mengalah, dengan harapan pihak lain juga melakukan hal yang sama.
2.
Boundary,
yaitu menangani
konflik dengan diplomasi, dimana kedua belah pihak mengirim wakil–wakilnya untuk berunding memecahkan
konflik yang terjadi.
3.
Interpenetration,
yaitu pemecahan
konflik dengan interaksi informal yang sering dengan melibatkan pihak lain
untuk membangun apresiasi terhadap pandangan masing-masing.
4.
Superorganizational,
yaitu menggunakan
pihak ketiga yang netral untuk menangani konflik.
5.
Superordinate
goal, yaitu para
anggota saluran yang terlibat konflik menetapkan tujuan bersama.
6.
Exchange
of person, yaitu
masing–masing
pihak yang berkonflik saling bertukar personil. Tujuannya adalah agar masing–masing pihak memahami sudut pandang
dan situasi yang dihadapi pihak lainnya.
7.
Cooptation,
yaitu menggunakan
pemimpin organisasi lain yang ditempatkan di dewan penasehat atau dewan
direktur untuk didengar pendapatnya dalam penyelesaian konflik.

Post a Comment