makalah komoditas jagung
MAKALAH
KOMODITAS TANAMAN JAGUNG DI MADURA

Disusun Oleh:
Nama: M. Syifa’ul munir
NIM
: 180321100162
PRODI
AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
TRUNOJOYO MADURA
BANGKALAN
2018
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah
memberiakan kesehatan dan kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan makalah
tentang komoditas unggul yang berada di daerah saya yakni pulau
Madura.
Makalah ini dibuat
untuk memenuhi take home UTS aplikom dan mengetahui tentang perkembangan tanaman
jagung yang menjadi komoditas unggul di pulau
Madura.
Saya menyadari bahwa makalah yang saya buat ini masih
jauh dari kata sempurna, sehingga saya mengharap kepada ibu Dian Eswin
Wijayanti, M.Sc selaku dosen aplikom untuk memberikan kritikan dan saran pada
hasil makalah saya ini.
Akhirnya saya
mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman juga yang sudah memberikan
masukan untuk makalah ini dan kepada dosen aplikom atas waktunya untuk
mengkoreksi makalah yang saya buat ini.
Bangkalan, 16
Oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
nomenklatur ekonomi tanaman pangan Indonesia, jagung merupakan komoditas
penting kedua setelah padi. Namun, perkembangan industri peternakan yang
semakin pesat, jagung merupakan komponen utama (60%) dalam ransum pakan.
Diperkirakan lebih dari 55% kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk
pakan, sedangkan untuk konsumsi pangan hanya sekitar 30%, dan selebihnya untuk
kebutuhan industri lainnya dan benih. Dengan demikian, peran jagung sebetulnya
sudah berubah lebih sebagai bahan baku industri dibanding sebagai bahan pangan.
Kondisi geografi komoditas jagung juga mengalami pergeseran.
Pada saat masih berstatus sebagai komoditas pangan, daerah penyebaran jagung
didominasi oleh Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara
Timur. Dengan berkembangnya industri peternakan maka peran Lampung dan Sumatera
Utara mulai mengala.hkan posisi Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa
Tenggara Timur.
Perubahan pola permintaan
jagung juga mendorong perubahan adopsi teknologi benih. Mulai awal tahun 1990an,
industri benih jagung hibrida berkembang pesat yang diikuti oleh percepatan
adopsi teknologi jagung hibrida. Percepatan adopsi ini terkait dengan promosi
dan penyuluhan yang dilakukan oleh industri benih jagung hibrida. Diperkirakan
luas areal tanam jagung hibrida lebih 30% dari total areal pertanaman jagung di
Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
1.Bagaimana potensi
agrosistem pertanian jagung yang ada di Madura?
1.3 Tujuan
Dapat mengetahui
potensi agrosistem pertanian jagung yang ada di Madura.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 POTENSI AGROSISTEM
PERTANIAN JAGUNG DI MADURA
Hasil analisis
pemodelan kesesuaian lahan berdasarkan potensi agro-ekosistem (Zaed et.al,
2009) didapatkan bahwa sebagian besar wilayah Madura sesuai untuk budidaya
jagung. Luas wilayah yang sangat sesuai untuk budidaya jagung mencapai 70.279,5
ha atau 15,4% dari luas wilayah Madura. Luas wilayah yang sesuai mencapai
211.512,3 ha atau 46,3%. Luas wilayah yang kurang sesuai 161.098,6 ha atau
35,3% dan wilayah yang tidak sesuai untuk budidaya jagung mencapai 13.732,0 ha
atau 3% dari luas wilayah Maura.
Gambar 1Jagung lokal
Hasil analisa untuk
masing-masing Kabupaten menunjukkan untuk Kabupaten Bangkalan daerah yang
sangat sesuai untuk budidaya jagung mencapai 14,001.8 ha atau 10,8% dari luas
Kabupaten Bangkalan, sedangkan daerah yang sesuai untuk budidaya jagung
mencapai 60.996,7 ha atau mencapai 46,9% dari luas wilayah Bangkalan. Kabupaten
Sampang daerah yang kurang sesuai mencapai 44,4% dari luas Kabupaten Sampang
dengan luas 54.833,0 ha, sedangkan daerah yang sesuai mencapai 45.195,7 ha
(36,6%) dan daerah yang sangat sesuai mencapai 20.247.7 ha atau 16,4% dari luas
Kabupaten Sampang. Wilayah Pamekasan wilayah yang sesuai untuk budidaya jagung
mencapai 37.547,2 ha atau 45,9% dari luas Kabupaten Pamekasan, sedangkan untuk
daerah yang kurang sesuai mencapai 25.197,0 ha atau 30,8% dan daerah yang
sangat sesuai mencapai 18,6% dari wilayah Pamekasan (15.188,4 ha). Kabupaten
Sumenep daerah yang sesuai mencapai 55,8% dari luas wilayah Sumenep (67.772,7
ha), daerah yang kurang sesuai mencapai 25,3% (30.757,4 ha), sedangkan daerah
yang sangat sesuai mencapai 17,2% atau 20.841,5 ha. Pulau Madura areal tanaman
untuk jagung kurang lebih 360.000 hektar (30 % areal jagung di Jawa Timur),
namun produktivitas ditingkat petani masih rendah rata-rata 1,4 ton per hektar
(Roesmarkam)
Tabel 1Hasil Analisis Pemodelan Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Jagung
No
|
Kelas
|
Bangkalan
(Ha)
|
%
|
Sampang
(Ha)
|
%
|
Pamekasan
(Ha)
|
%
|
Sumenep
(Ha)
|
%
|
|||||||
1
|
Sangat
Sesuai
|
14.001,8
|
10,8
|
20.247,7
|
16,4
|
15.188,4
|
18,6
|
20.841,5
|
17,2
|
|||||||
2
|
Sesuai
|
60.996,7
|
46,9
|
45.195,7
|
36,6
|
37.547,2
|
45,9
|
67.722,7
|
58,8
|
|||||||
3
|
Kurang
sesuai
|
50.311,1
|
38,7
|
54.833,0
|
44,4
|
25,197,0
|
30,8
|
30.757,4
|
25,3
|
|||||||
4
|
Tidak
Sesuai
|
4.809,0
|
3,7
|
3.086,0
|
2,5
|
3.811,3
|
4,7
|
2.025,6
|
1,7
|
|||||||
130.118,6
|
100
|
123.362,5
|
100
|
81.744,0
|
100
|
121.397,2
|
100
|
|||||||||

Dari data di atas penulis dapat menyimpulkan bahwakeluasan lahan di
setiap tempat sangat mempengaruhi prosentase keuntungan dari hasil budidaya
tanaman jagung.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hasil analisis pemodelan
kesesuaian lahan berdasarkan potensi agro-ekosistem (Zaed et.al, 2009)
didapatkan bahwa sebagian besar wilayah Madura sesuai untuk budidaya jagung.
Luas wilayah yang sangat sesuai untuk budidaya jagung mencapai 70.279,5 ha atau
15,4% dari luas wilayah Madura. Luas wilayah yang sesuai mencapai 211.512,3 ha
atau 46,3%. Luas wilayah yang kurang sesuai 161.098,6 ha atau 35,3% dan wilayah
yang tidak sesuai untuk budidaya jagung mencapai 13.732,0 ha atau 3% dari luas
wilayahMadura.
3.2 Saran
Sebaiknya peran pemerintah disini harus menyediakan
alat-alat yang canggih, pupuk yang baik, dan bibit yang unggul untuk petani
jagung supaya hasil menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Amzeri, A.
(2018). Tinjauan perkembangan pertanian jagung di madura dan alternatif
pengolahan menjadi biomaterial. Jurnal Ilmiah Rekayasa, 11(1),
74–86.
Isdiana Suprapti1,2, Dwidjono Hadi Darwanto2, J. H. M. dan L.
R. W. (2014). EFISIENSI PRODUKSI PETANI JAGUNG MADURA DALAM MEMPERTAHANKAN
KEBERADAAN JAGUNG LOKAL. Agroekonomika, 3(1), 11–20.
LAMPIRAN
Langkah-langkah pembuatan Mail Merge:









Post a Comment